The Chapter | Biru - Prolog

The Chapter | Biru - Prolog

Sep 11, 2025

Padahal Biru sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidur lebih awal. Mata lelah, pinggang pegal, ditambah lagi hujan pertama setelah kemarau panjang, mestinya cukup untuk merobohkan kesadaran Biru dan lekas beristirahat. Namun kenyataannya tidak. Biru tetap terbaring, memandang kosong ke langit-langit sepanjang malam.

Semakin malam, hujan semakin deras mengguyur seolah bisa meruntuhkan atap rumahnya kapan saja. Kilatan petir yang kadang kala menyambar, menyeret kenangan lama yang tak disangka menorehkan luka baru di samping luka yang bahkan belum sempat ia rawat.

Lelah sekali, Bu. Bisiknya pelan, lalu kilat kembali menyambar.

Tangannya meraih ruang kosong, mencari-cari sesuatu yang sejak lama hilang—sebagian dari dirinya yang ia percayakan pada satu-satunya yang tak pernah mengecewakannya. Bagian yang sangat dia rindukan. Lalu setetes air jatuh di sebelah wajahnya. Biru perlahan menutup mata dengan lengan, berupaya keras menahan derasnya hujan yang meleleh di pipinya.

Mudah sekali.

Bibir Biru tersenyum lirih. Kenangan itu tak perlu menghantam sekuat badai. Cukup dengan hadir, pelan, perlahan—mengetuk hatinya, dan saat itu juga hatinya luruh tanpa suara. Pertahanan yang enam tahun ia bangun dengan susah payah runtuh seketika, seperti atap rapuh yang remuk dihantam hujan.

“Hhh…” beratnya hembusan napas Biru kala itu, menyesakkan dada. “tahan… tahan…” Ia berusaha tegar, walau suaranya pecah, tercekat, tenggelam bersama gemuruh hujan di luar sana.

“Ibu sudah bahagia kok, walau cuma punya Biru... Jangan terlalu capek ya, Ibu di sini, nggak ke mana-mana. Pelan-pelan...”

Sejak saat itu, Biru menitipkan bukan hanya sebagian, melainkan hampir seluruh hidupnya pada sosok itu—segala yang ia punya, segala yang ia percaya, juga sisa dirinya yang retak—yang tidak sempurna.

Ia tahu betul, menitipkan hidup pada seseorang sama saja menyerahkan kunci hatinya tanpa cadangan. Dan benar saja, tanpa menoleh, tanpa pernah mengembalikan apa yang Biru titipkan. Hari itu akhirnya tiba: sosok itu pergi, tanpa menyisakan ruang untuknya bisa terjatuh, lalu perlahan belajar berdiri kembali.

Yang tinggal hanyalah ruang kosong—yang dulu ramai di isi tawa dan harap. Biru harus menanggung kehilangan Ibu yang begitu ia cintai, dan bersama itu pula…

Dia kehilangan dirinya sendiri.

Di titik itu, hujan tak lagi sekadar air. Ia berubah menjadi pisau tipis yang mengiris perlahan, memastikan setiap denyut di dada Biru terasa sakit. Sampai-sampai isakkan kecil melompat dari bibirnya. Tak lagi bisa terbendung. Retakan yang ia tutupi rapat-rapat akhirnya pecah juga.

Bu… habis sudah tenaga Biru… rintihnya.

Ditengah perih itu, hujan masih jatuh tanpa henti — runtuh, yang tak bisa ia bedakan lagi — mana miliknya, mana milik langit.


Copyright © 2025 Lookie Cookie Made. All Rights Reserved.

Tulisan ini merupakan karya asli yang dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta.

Dilarang keras memperbanyak, menyalin, mendistribusikan, menerjemahkan, mengutip sebagian atau seluruh isi cerpen, baik dalam bentuk cetak maupun digital, tanpa persetujuan tertulis dari penulis.

Segala bentuk pelanggaran akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

¿Te gusta esta publicación?

Comprar Lookie Cookie un café

Más de Lookie Cookie

PrivacidadCondicionesDenunciar