The Legend of Aji Saka

Feb 07, 2026

The kingdom of Medang Kemulan was led by a king named Dewata Cengkar. Raja Dewata Cengkar was known as a cruel king. He also likes to eat human flesh. Every day the king cruelly ordered his patih named Jugul Muda to look for humans to eat. The people are very afraid of King Dewata Cengkar. They will immediately run into hiding if they meet Patih Jugul Muda.

Kerajaan Medang Kemulan dipimpin oleh seorang raja bernama Dewata Cengkar. Raja Dewata Cengkar dikenal sebagai raja yang kejam. Ia juga suka memakan daging manusia. Setiap hari, raja memerintahkan patihnya yang bernama Jugul Muda untuk mencari manusia untuk dimakan. Rakyat sangat takut pada Raja Dewata Cengkar. Mereka akan segera bersembunyi jika bertemu dengan Patih Jugul Muda.

Once upon a time, there lived a young man named Aji Saka living in a village called Medang Kawit. Everyday he is accompanied by his bodyguards, Dora dan Sembada. News of the cruelty of the King of Dewata Cengkar had reached his ears. Aji Saka plans to go to Medang Kemulan to help ordinary people.

Dahulu kala, hidup seorang pemuda bernama Aji Saka di sebuah desa bernama Medang Kawit. Setiap hari ia ditemani oleh dua pengawalnya, Dora dan Sembada. Kabar tentang kekejaman Raja Dewata Cengkar telah sampai ke telinganya. Aji Saka berencana pergi ke Medang Kemulan untuk membantu rakyat biasa.

So the young man left for the kingdom of Medang Kemulan, accompanied by his two bodyguards, Dora dan Sembada. When he arrived in the Kendeng Mountains, Aji Saka ordered one of his bodyguards, Sembada, to stay there while guarding his inheritance keris.

Maka pemuda itu berangkat ke kerajaan Medang Kemulan, ditemani oleh dua pengawalnya, Dora dan Sembada. Ketika tiba di Pegunungan Kendeng, Aji Saka memerintahkan salah satu pengawalnya, Sembada, untuk tinggal di sana sambil menjaga keris warisannya.

"Sembada, you stay here to guard my inheritance keris. Do not leave the keris to anyone. Later I will take the keris. Me and Dora will continue the journey to Medang Kemulan. " he said to Sembada.

“Sembada, kau tinggal di sini untuk menjaga keris warisan ku. Jangan serahkan keris itu kepada siapa pun. Nanti aku akan mengambil keris itu. Aku dan Dora akan melanjutkan perjalanan ke Medang Kemulan,” katanya kepada Sembada.

"Fine, I'll take care of your keris. I promise not to hand it over to anyone other than your majesty. " answered Sembada.

“Baiklah, aku akan menjaga kerismu. Aku berjanji tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun selain Yang Mulia,” jawab Sembada.

While continuing the journey with Dora, they accidentally met Patih Jugul Muda. They both saw Patih Jugul Muda appear confused. Apparently the governor had not yet succeeded in getting humans to be handed over to King Dewata Cengkar. After chatting for a while, Aji Saka then offered himself to be handed over to King Dewata Cengkar. Hearing Aji Saka's request, Jugul Muda was delighted. They immediately left for the palace Medang Kemulan.

Selama melanjutkan perjalanan bersama Dora, mereka secara tidak sengaja bertemu dengan Patih Jugul Muda. Keduanya melihat Patih Jugul Muda tampak bingung. Ternyata gubernur tersebut belum berhasil mendapatkan manusia untuk diserahkan kepada Raja Dewata Cengkar. Setelah berbincang sebentar, Aji Saka lalu menawarkan diri untuk diserahkan kepada Raja Dewata Cengkar. Mendengar permintaan Aji Saka, Jugul Muda merasa senang. Mereka segera berangkat menuju istana Medang Kemulan.

Arriving at the palace they immediately faced Dewata Cengkar. Aji Saka requested a request before the King ate it. Namely, Aji Saka requested that the King of Dewata Cengkar give him land as large as his turban. The cruel king immediately agreed.

Setibanya di istana, mereka langsung berhadapan dengan Dewata Cengkar. Aji Saka mengajukan permintaan sebelum Raja memakannya. Yaitu, Aji Saka meminta agar Raja Dewata Cengkar memberikan tanah seluas turban miliknya. Raja yang kejam itu segera setuju.

"What was your wish before I fell prey?" asked Dewata Cengkar, laughing out loud.

“Apa keinginanmu sebelum aku memakannya?” tanya Dewata Cengkar sambil tertawa terbahak-bahak.

"Your Honor, I only request land as large as your sorbents." answered Aji Saka.

Yang Mulia, aku hanya meminta tanah seluas serbanmu,” jawab Aji Saka.

Dewata Cengkar immediately agreed. Immediately Aji Saka held his turban. Oddly enough. His turban continues to expand and expand to cover the entire Medang Kemulan. Dewata Cengkar very angry because he felt Aji Saka had challenged him.

Dewata Cengkar segera setuju. Segera Aji Saka memegang turbannya. Anehnya, turbannya terus membesar dan membesar hingga menutupi seluruh Medang Kemulan. Dewata Cengkar sangat marah karena merasa Aji Saka telah menantangnya.

"Damn you young man! It turns out you want to challenge me. " King of Dewata Cengkar immediately attacked him. But the turban that had expanded, covered the body of Dewata Cengkar and rolled it up until it disappeared on the big choppy southern coast. Dewata Cengkar was killed instantly.

“Sialan kau, pemuda! Ternyata kau ingin menantangku.” Raja Dewata Cengkar segera menyerangnya. Namun, sorban yang telah membesar itu menutupi tubuh Dewata Cengkar dan menggulungnya hingga menghilang di pantai selatan yang berombak besar. Dewata Cengkar tewas seketika.

Word of the death of the vicious King Dewata Cengkar was widespread. All the people of Medang Kemulan were very happy. The People's Medang Kemulan then made Aji Saka king. Aji Saka now governs Medang Kemulan Kingdom wisely.

Kabar kematian Raja Dewata Cengkar yang kejam tersebar luas. Seluruh rakyat Medang Kemulan merasa sangat bahagia. Rakyat Medang Kemulan kemudian mengangkat Aji Saka sebagai raja. Aji Saka kini memerintah Kerajaan Medang Kemulan dengan bijaksana.

After becoming king, Aji Saka then remembered his keris which he left with Sembada in the Kendeng Mountains. King Aji Saka then told his bodyguard Dora to take the inheritance keris that Sembada was holding.

Setelah menjadi raja, Aji Saka kemudian teringat pada keris yang ditinggalkannya bersama Sembada di Pegunungan Kendeng. Raja Aji Saka lalu memerintahkan pengawalnya, Dora, untuk mengambil keris warisan yang dipegang oleh Sembada.

Dora immediately went to the Kendeng Mountains to retrieve Aji Saka's heirloom keris. Arriving in the Kendeng Mountains, Dora meets Sembada. They both release each other longing. Dora tells that Aji Saka has become the king of Medang Kemulan. Sembada was happy to hear that. Dora then said that the purpose of his arrival was to take Aji Saka's heirloom keris. But Sembada refused because Aji Saka ordered that the one who could take the heirloom keris was Aji Saka himself. The two of them finally fight over the inheritance keris. The fight took place fiercely because both are equally powerful. Finally they both died from fighting for the sake of carrying out the mandate of Aji Saka.

Dora segera pergi ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil keris pusaka Aji Saka. Setibanya di Pegunungan Kendeng, Dora bertemu dengan Sembada. Keduanya saling melepaskan kerinduan. Dora memberitahu bahwa Aji Saka telah menjadi raja Medang Kemulan. Sembada merasa senang mendengar hal itu. Dora lalu mengatakan bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk mengambil keris pusaka Aji Saka. Namun Sembada menolak karena Aji Saka telah memerintahkan bahwa yang berhak mengambil keris pusaka tersebut hanyalah Aji Saka sendiri. Keduanya akhirnya bertarung memperebutkan keris pusaka tersebut. Pertarungan berlangsung sengit karena keduanya sama-sama kuat. Akhirnya keduanya tewas dalam pertarungan demi melaksanakan perintah Aji Saka.

At Medang Kemulan, King Aji Saka was anxiously awaiting Dora's arrival. He remembered ordering to Sembada not to hand over his inheritance to anyone except himself. Worried that something unexpected had happened, Aji Saka soon followed into the Kendeng Mountains. But too late, when he got there, Aji Saka found two bodyguards, Dora dan Sembada, lying stiff. Aji Saka felt guilty and very sad. Out of respect for the loyalty of his two employees, Aji Saka then created the Javanese script that tells the loyalty and fight of his two bodyguards.

Di Medang Kemulan, Raja Aji Saka dengan cemas menanti kedatangan Dora. Ia ingat pernah memerintahkan Sembada untuk tidak menyerahkan warisannya kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Khawatir sesuatu yang tak terduga telah terjadi, Aji Saka segera mengikuti ke Pegunungan Kendeng. Namun terlambat, ketika sampai di sana, Aji Saka menemukan dua pengawalnya, Dora dan Sembada, terbaring kaku. Aji Saka merasa bersalah dan sangat sedih. Sebagai penghormatan atas kesetiaan kedua pegawainya, Aji Saka kemudian menciptakan aksara Jawa yang menceritakan kesetiaan dan perjuangan kedua pengawalnya.

According to legend, Aji Saka was the first to bring civilization to Java, the creator of the ancient Javanese script "Hanacaraka" and the Saka calendar.

Menurut legenda, Aji Saka adalah orang pertama yang membawa peradaban ke Jawa, pencipta aksara Jawa kuno “Hanacaraka” dan kalender Saka.

Подобається цей допис?

Купити для Bocin: Ngobrolin Diri Sendiri buku

Більше від Bocin: Ngobrolin Diri Sendiri

КонфіденційністьУмовиПоскаржитись