Reog Ponorogo

Jun 05, 2026

It is Dewi Sanggalangit, a daughter of the king of Kediri, who is famous for her beauty. There have been many princes and kings who are interested with her as a wife, but she always refused on the grounds that she did not have the desire to get married. Her parents urged their daughter to get married soon. They want to immediately have grandchildren.

Dewi Sanggalangit, putri Raja Kediri, terkenal karena kecantikannya. Sudah banyak pangeran dan raja yang tertarik untuk menjadikannya istri, tetapi ia selalu menolak dengan alasan tidak memiliki keinginan untuk menikah. Orang tuanya mendesak putri mereka agar segera menikah. Mereka ingin segera memiliki cucu.

Wanting to make her parents happy, Dewi Sanggalangit finally agreed to get married on condition that she was entertained by an interesting spectacle that had never existed before. She explained that this spectacle must be in the form of a dance accompanied by gamelan music, accompanied by a row of twin horses, and also that there must be a two-headed animal.

Ingin membuat orang tuanya bahagia, Dewi Sanggalangit akhirnya setuju untuk menikah dengan syarat dia disuguhi pertunjukan menarik yang belum pernah ada sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut harus berupa tarian yang diiringi musik gamelan, disertai barisan kuda kembar, dan juga harus ada hewan berkepala dua.

Happy with her daughter's willingness to get married, The King of Kediri then held a contest for whoever was able to give the spectacle requested by Dewi Sanggalangit, so he would be married to his daughter.

Senang dengan kesediaan putrinya untuk menikah, Raja Kediri kemudian mengadakan lomba bagi siapa saja yang mampu menyajikan pertunjukan yang diminta oleh Dewi Sanggalangit, sehingga ia akan dinikahkan dengan putrinya.

After the competition was announced, applicants flocked to register to take part in the contest. But after learning the tough conditions, many of them finally resigned. Except for two people who felt able to meet the requirements requested, namely Raja Singabarong from the Kingdom of Lodaya and Raja Kelana Swandana from the Kingdom of Bandarangin.

Setelah lomba diumumkan, para pelamar berbondong-bondong mendaftar untuk ikut serta dalam lomba tersebut. Namun, setelah mengetahui syarat-syarat yang berat, banyak di antara mereka yang akhirnya mengundurkan diri. Kecuali dua orang yang merasa mampu memenuhi persyaratan yang diminta, yaitu Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin.

Raja Singabarong is a strange-looking human, that is, a tiger-head and bushy hair which is filled with fleas. That is why he maintains a peacock who is diligently pecking at the fleas. In addition to his strange form, Raja Singabarong also has a savage and cruel nature.

Raja Singabarong adalah manusia berpenampilan aneh, yakni berkepala harimau dan berambut lebat yang dipenuhi kutu. Itulah sebabnya ia memelihara seekor burung merak yang rajin mematuk kutu-kutu tersebut. Selain penampilannya yang aneh, Raja Singabarong juga memiliki sifat liar dan kejam.

While Kelana Swandana is a king who has a handsome face, but he likes boys.

Sedangkan Kelana Swandana adalah seorang raja yang berwajah tampan, namun ia menyukai anak laki-laki.

Raja Singabarong called his governor named Iderkala. He was sent to investigate his rival, Kelana Swandana. After that, the Patih rushed to the Kingdom of Bandarangin to investigate. After a few days, he returned to report.

Raja Singabarong memanggil gubernurnya yang bernama Iderkala. Ia dikirim untuk menyelidiki saingannya, Kelana Swandana. Setelah itu, Patih bergegas ke Kerajaan Bandarangin untuk menyelidiki. Setelah beberapa hari, ia kembali untuk melaporkan.

The Patih reported if all the conditions proposed by the Princess were successfully prepared, except for the two-headed animal. Hearing that, Singabarong panicked. He also ordered his soldiers to attack the Kingdom of Bandarangin. Singabarong intended to seize the results of Kelana Swandana's efforts.

Patih melaporkan bahwa semua persyaratan yang diajukan oleh Putri telah berhasil disiapkan, kecuali hewan berkepala dua. Mendengar hal itu, Singabarong panik. Ia juga memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kerajaan Bandarangin. Singabarong bermaksud merebut hasil usaha Kelana Swandana.

Once ready, Singabarong ordered several spies to investigate Kelana Swandana's travel route. However, the spy was captured by Bandarangin soldiers. After learning about Singabarong's plans, Kelana Swandana hurriedly attacked the Lodaya Kingdom.

 

 

Setelah siap, Singabarong memerintahkan beberapa mata-mata untuk menyelidiki rute perjalanan Kelana Swandana. Namun, mata-mata tersebut ditangkap oleh pasukan Bandarangin. Setelah mengetahui rencana Singabarong, Kelana Swandana segera menyerang Kerajaan Lodaya.

At that time, Singabarong was sleeping in the royal garden because the comfort of the head lice was pecked at by his peacock. Outside the palace, Bandarangin's forces defeated Lodaya's warriors. At that time, only Singabarong woke up. Meanwhile, the peacock still pecked the lice on Singabarong's head.

Saat itu, Singabarong sedang tidur di taman kerajaan karena rasa nyaman akibat kutu di kepalanya yang sedang dipatuk oleh burung merak miliknya. Di luar istana, pasukan Bandarangin mengalahkan para prajurit Lodaya. Saat itu, hanya Singabarong yang terbangun. Sementara itu, burung merak tersebut masih terus mematuk kutu di kepala Singabarong.

When about to observe the situation, Singabarong was intercepted by Kelana Swandana. With his magic, Kelana Swandana turned Singabarong into a tiger. But the tiger head also has a peacock head.

Saat hendak mengamati situasi, Singabarong dihentikan oleh Kelana Swandana. Dengan sihirnya, Kelana Swandana mengubah Singabarong menjadi seekor harimau. Namun, kepala harimau itu juga memiliki kepala burung merak.

Soon, Kelana Swandana brought Singabarong incarnation animals to fulfill the conditions determined by Dewi Sanggalangit. Seeing everything requested by Kelana Swandana, Dewi Sanggalangit was willing to be married. Over time, the arts created by Kelana Swandana are known as Reog Ponorogo.

Tak lama kemudian, Kelana Swandana membawa Singabarong yang telah berubah wujud menjadi hewan untuk memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Dewi Sanggalangit. Melihat semua yang diminta oleh Kelana Swandana, Dewi Sanggalangit pun bersedia menikah. Seiring berjalannya waktu, seni yang diciptakan oleh Kelana Swandana dikenal sebagai Reog Ponorogo.

Enjoy this post?

Buy Bocin: Ngobrolin Diri Sendiri a buku

More from Bocin: Ngobrolin Diri Sendiri

PrivacyTermsReport