Once upon a time in heaven, Batara Guru, who was the supreme ruler of the kingdom of heaven, ordered all the gods and goddesses to work together and donate their energy to build a new palace in heaven. Anyone who disobeyed this order was considered lazy, and would have their hands and feet cut off.
Dahulu kala di surga, Batara Guru, yang merupakan penguasa tertinggi kerajaan surga, memerintahkan semua dewa dan dewi untuk bekerja sama dan menyumbangkan tenaga mereka guna membangun istana baru di surga. Siapa pun yang melanggar perintah ini dianggap malas, dan tangan serta kakinya akan dipotong.
Hearing Batara Guru's order, Antaboga or Anta, the snake god, was very worried. Imagine that he did not have the hands and feet to work. If he had to be punished, only his neck could be cut, and that meant death. Anta was very scared, so he asked Batara Narada, Batara Guru's brother, for advice regarding the problem he was facing. But unfortunately, Batara Narada was confused and could not find a way to help the snake god. Desperate, Dewa Anta cried bitterly and mourned how bad his fate was.
Mendengar perintah Batara Guru, Antaboga atau Anta, dewa ular, menjadi sangat khawatir. Bayangkan jika ia tidak memiliki tangan dan kaki untuk bekerja. Jika ia harus dihukum, hanya lehernya yang bisa dipotong, dan itu berarti kematian. Anta sangat ketakutan, sehingga ia meminta nasihat kepada Batara Narada, saudara Batara Guru, mengenai masalah yang dihadapinya. Namun sayangnya, Batara Narada bingung dan tidak menemukan cara untuk membantu dewa ular itu. Dalam keputusasaan, Dewa Anta menangis pilu dan meratapi betapa buruknya nasibnya.
However, when Anta's tears fell to the ground, miraculously, three drops of tears turned into granules that sparkled like gems. The granules are actually eggs that have beautiful shells. Barata Narada suggested that the eggs be offered to Batara Guru as a form of request so that he would understand and forgive Anta's shortcomings in not being able to work on building the palace.
Namun, ketika air mata Anta jatuh ke tanah, secara ajaib, tiga tetes air mata berubah menjadi butiran yang berkilau seperti permata. Butiran-butiran itu sebenarnya adalah telur yang memiliki cangkang indah. Batara Narada menyarankan agar telur-telur itu dipersembahkan kepada Batara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan memaafkan kekurangan Anta yang tidak mampu bekerja membangun istana.
Carrying three eggs in his mouth, Anta left for Batara Guru's palace. On the way, Anta met an eagle (there are several versions that say a crow), who then greeted him and asked him where he was going. Because his mouth was full of eggs, Anta was just silent, unable to answer the bird's question. The eagle thought that Anta was arrogant, so he was very offended and angry.
Membawa tiga telur di mulutnya, Anta berangkat menuju istana Batara Guru. Di tengah perjalanan, Anta bertemu seekor elang (ada beberapa versi yang menyebutkan burung gagak), yang kemudian menyapanya dan menanyakan ke mana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh dengan telur, Anta hanya diam, tak mampu menjawab pertanyaan burung itu. Elang itu mengira bahwa Anta bersikap sombong, sehingga ia merasa sangat tersinggung dan marah.
The bird also attacked Anta, who was panicked, scared, and confused. As a result, one of the eggs broke. Anta immediately hid behind the bushes, waiting for the eagle to leave. But the eagle kept waiting until Anta came out of the grass and attacked him again. The second egg was broken, and Anta immediately slithered and ran in fear to save himself. Now there is only one pearl egg that is safe, intact, and unbroken.
Burung itu pun menyerang Anta, yang panik, ketakutan, dan kebingungan. Akibatnya, salah satu telur pecah. Anta segera bersembunyi di balik semak-semak, menunggu elang itu pergi. Namun, elang itu terus menunggu hingga Anta keluar dari rerumputan dan menyerangnya lagi. Telur kedua pun pecah, dan Anta segera merayap dan berlari ketakutan untuk menyelamatkan diri. Kini hanya tersisa satu telur mutiara yang aman, utuh, dan tidak pecah.
The two broken eggs that fell to the ground transformed into two wild boars, Kalabuat and Budug Basu. And then, Kalabuat and Budug Basu are kept by Gumarang cow. This cow is a miraculous incarnation as a result of a female cow accidentally drinking the urine of the demon Idajil so that she becomes pregnant and gives birth to the Gumarang cow.
Dua telur yang pecah dan jatuh ke tanah berubah menjadi dua babi hutan, Kalabuat dan Budug Basu. Kemudian, Kalabuat dan Budug Basu dipelihara oleh sapi Gumarang. Sapi ini adalah inkarnasi ajaib akibat seekor sapi betina secara tidak sengaja meminum air kencing raksasa Idajil sehingga ia hamil dan melahirkan sapi Gumarang.
Finally, Anta arrived at Batara Guru's palace and immediately presented the egg to the ruler of heaven. Batara Guru happily accepted the gem offering. However, after knowing that it was a magic egg, Batara Guru ordered Anta to incubate the egg until it hatched. After a long time, Anta incubated the egg, and the egg hatched. But miraculously, what came out of the egg was a very beautiful, cute, and adorable baby girl. The baby girl was immediately adopted by Batara Guru and his queen.
Akhirnya, Anta tiba di istana Batara Guru dan segera mempersembahkan telur tersebut kepada penguasa langit. Batara Guru dengan senang hati menerima persembahan permata itu. Namun, setelah mengetahui bahwa itu adalah telur ajaib, Batara Guru memerintahkan Anta untuk mengerami telur tersebut hingga menetas. Setelah waktu yang lama, Anta mengerami telur tersebut, dan telur itu menetas. Namun secara ajaib, yang keluar dari telur itu adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik, imut, dan menggemaskan. Bayi perempuan itu segera diadopsi oleh Batara Guru dan permaisurinya.
Nyi Pohaci Sanghyang Sri is the name given to the princess. As time passed, Nyi Pohaci grew into an extraordinarily beautiful girl. A princess who is kind, gentle, smooth in speech, and virtuous in language captivates all beings. Every eye that looked at her, god and human alike, immediately fell in love with the goddess.
Nyi Pohaci Sanghyang Sri adalah nama yang diberikan kepada sang putri. Seiring berjalannya waktu, Nyi Pohaci tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa cantik. Seorang putri yang baik hati, lembut, pandai bicara, dan kelembutannya dalam berbicara memikat semua makhluk. Setiap mata yang memandangnya, baik dewa maupun manusia, langsung jatuh cinta pada sang dewi.
As a result of her beauty, which beats all the angels and heavenly goddesses, Batara Guru himself was captivated by his adopted daughter. Batara Guru secretly had a desire to marry Nyi Pohaci. Seeing Batara Guru's behavior, the gods became worried that, if left unchecked, this scandal would destroy the harmony in heaven. So the gods negotiated a strategy to separate Batara Guru and Nyi Pohaci Sanghyang Sri.
Karena kecantikannya yang melampaui semua malaikat dan dewi surgawi, Batara Guru sendiri pun terpikat oleh putri angkatnya. Batara Guru diam-diam memiliki keinginan untuk menikahi Nyi Pohaci. Melihat perilaku Batara Guru, para dewa menjadi khawatir bahwa, jika dibiarkan begitu saja, skandal ini akan menghancurkan keharmonisan di surga. Maka para dewa merundingkan strategi untuk memisahkan Batara Guru dan Nyi Pohaci Sanghyang Sri.
To protect the purity of Nyi Pohaci as well as to maintain harmony in the household of the ruler of heaven, the gods agreed that there was no other way but to kill Nyi Pohaci. The gods collected all kinds of the deadliest venomous poison and immediately put it in the drink of the princess. Nyi Pohaci soon died of poisoning.
Untuk melindungi kesucian Nyi Pohaci serta menjaga keharmonisan di rumah tangga penguasa surga, para dewa sepakat bahwa tidak ada cara lain selain membunuh Nyi Pohaci. Para dewa mengumpulkan segala macam racun paling mematikan dan segera memasukkannya ke dalam minuman sang putri. Nyi Pohaci pun segera meninggal karena keracunan.
The gods panicked and feared because they had committed the grave sin of killing an innocent holy girl. Soon, the body of the goddess was brought down to earth and buried in a remote and hidden place. The disappearance of Dewi Sri from heaven made Batara Guru, Anta, and all the gods grieve.
Para dewa panik dan takut karena telah melakukan dosa besar dengan membunuh seorang gadis suci yang tak bersalah. Tak lama kemudian, jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat terpencil dan tersembunyi. Hilangnya Dewi Sri dari surga membuat Batara Guru, Anta, dan semua dewa berduka.
However, something miraculous happened because of the purity and kindness of the goddess: various plants emerged from inside her grave that were very useful for mankind. From her head emerged a coconut tree. From her nose, lips, and ears sprang various fragrant herbs and vegetables. From her hair grew grass and various beautiful and fragrant flowers. From her chests grew ripe and sweet fruits. From her arms and hands grew teak, sandalwood, and various useful wood trees; from her internal organs appeared palm trees or sugar palms. From his thighs grew various types of bamboo plants. From her feet spring various tubers and cassava; finally from the tomb came the rice plant, the most useful food for humans.
Namun, sesuatu yang ajaib terjadi berkat kesucian dan kebaikan sang dewi: berbagai tumbuhan muncul dari dalam kuburannya yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Dari kepalanya tumbuh pohon kelapa. Dari hidung, bibir, dan telinganya tumbuh berbagai rempah-rempah dan sayuran yang harum. Dari rambutnya tumbuh rumput dan berbagai tumbuhan indah dan bunga-bunga yang harum. Dari dadanya tumbuh buah-buahan yang matang dan manis. Dari lengan dan tangannya tumbuh pohon jati, cendana, dan berbagai pohon kayu yang bermanfaat; dari organ dalamnya muncul pohon kelapa atau pohon aren. Dari pahanya tumbuh berbagai jenis tanaman bambu. Dari kakinya tumbuh berbagai umbi-umbian dan singkong; akhirnya dari kuburannya muncul tanaman padi, makanan yang paling bermanfaat bagi manusia.
Another version says white rice appears from her right eye, while red rice appears from her left eye. In short, all plants useful for humans come from the body of Dewi Sri Pohaci. Since then, people on the island of Java have revered, glorified, and loved the kind-hearted goddess, who with her noble sacrifice has given the blessings of nature's goodness, fertility, and food availability for humans in the belief system of the ancient Sunda Kingdom.
Versi lain menyebutkan beras putih muncul dari mata kanannya, sedangkan beras merah muncul dari mata kirinya. Singkatnya, semua tanaman yang bermanfaat bagi manusia berasal dari tubuh Dewi Sri Pohaci. Sejak saat itu, masyarakat di pulau Jawa memuja, memuliakan, dan mencintai dewi yang baik hati ini, yang dengan pengorbanan mulianya telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia dalam sistem kepercayaan Kerajaan Sunda kuno.
